Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Kamis, 09 Agustus 2012

Seharusnya Kita Malu !

Momen Ramadhan seperti saat ini merupakan saat yang tepat berinstropeksi dan menjadikan momen terbaik untuk meningkatkan 'ghirah' keimanan kita semua. Bahkan kita dapat menjadikan Ramadhan menjadi momen kebangkitan Islam.

Memperhatikan fenomena semakin menurunnya keimanan saat ini, fenomena semakin lemahnya persatuan Islam telah melemahkan kita semua. Cobalah tengok, aliran-aliran sesat menjamur, paham-paham nyeleneh seperti liberalisme dan pluralisme yang semakin giat dan berani 'digalakan' oleh musuh-musuh Islam bahkan oleh segelintir oknum yang mengaku muslim yang nyata-nyata telah merusak Islam dari dalam.

Lebih parah lagi, institusi pendidikan 'Islam' sekaliber UIN Syarif Hidayatullah (dulu IAIN) dan 'IAIN-IAIN' lainnya yang semestinya menjadi motor kebangkitan umat dengan mencetak tokoh-tokoh alim yang diharapkan dapat memajukan dan menjadi motor penggerak dakwah Islam kini disinyalir sudah tercemar oleh pemikiran-pemikiran kafir seperti liberalisme dan pluralisme.

Malu rasanya, bila kita mencermati perkataan Rasulullah SAW dalam hadist-nya yang menyatakan bahwa umat Islam ibarat buih di samudera luas yang terombang-ambing oleh gelombang, jumlah kita banyak namun tidak dapat berbuat apa-apa.

Coba tengok kerusakan akhlak yang terjadi yang tidak hanya menjangkiti masyarakat awam seperti saya bahkan telah menjangkiti kaum alim seperti ustad dan ulama. Lebih miris lagi ada segelintir cendikia muslim dan ulama yang pemikirannya telah tercemar liberalisme, pluralisme dan dengan terang benderang memberikan dukungannya terhadap aliran-aliran sesat (Syiah, Ahmadiyah dan lainnya) yang telah mengotori ajaran Islam yang agung ini.

Bahkan kita tidak berdaya saat saudara-saudara kita sesama muslim teraniaya, disiksa, terbunuh, kitab suci Alquran dan masjid-masjid dibakar.

Ya Allah ya Rabb, lindungilah kami dari kehancuran.. Ampunilah dosa-dosa kami, hindarkan kami dari azab Mu yang diakibatkan oleh kerusakan yang telah kami perbuat, bantulah kami untuk merapatkan barisan dalam menghadapi tantangan yang semakin hebat yang datang dari musuh-musuh Islam baik dari luar maupun dari dalam... amiiien.

Jumat, 20 April 2012

Jika Kubur Dijadikan Tuhan

Apakah ada kubur yang dijadikan tuhan? Begitu mungkin pertanyaan yang muncul dari pembaca ketika membaca judul artikel ini. Karena setiap orang tahu, bahwa yang berhak disembah hanyalah Allah Ta’ala. Sedangkan menyembah selain Allah merupakan dosa besar yang paling besar. Semoga pertanyaan ini segera sirna setelah menela’ah apa yang akan kami sampaikan di bawah ini.
ISYARAT NABI ‘alaihi ash-sholatu was salam
Sesungguhnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sudah mengisyaratkan tentang penyembahan terhadap kubur itu di dalam banyak hadits-hadits yang shahih. Antara lain hadits di bawah ini,
عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا يُعْبَدُ اشْتَدَّ غَضَبُ اللَّهِ عَلَى قَوْمٍ اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
Dari ‘Atho’ bin Yasar, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berdoa: “Wahai Allah janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (tuhan yang disembah), besar murka Allah terhadap orang-orang yang menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid”(HR. Malik, di dalam kitab Al-Muwaththo’, no: 376)
Hadits ini mursal (termasuk lemah), namun dikuatkan oleh hadits-hadits yang lain sehingga menjadi shahih. Oleh Karena itu Syaikh Al-Albani menshahihkannya di dalam kitab Tahdzirus Sajid, hlm: 18, 19. Di antara hadits yang menguatakan adalah hadits di bawah ini,
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْ قَبْرِي وَثَنًا لَعَنَ اللَّهُ قَوْمًا اتَّخَذُوا قُبُورَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسَاجِدَ
Dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (beliau pernah berdoa): “Wahai Allah janganlah Engkau jadikan kuburku sebagai berhala (tuhan yang disembah), Allah melaknat orang-orang yang menjadikan kubur-kubur Nabi-Nabi mereka sebagai masjid-masjid” (HR. Ahmad, di dalam kitab Musnad, juz: 2, hlm: 246)
Syaikh Dr. Sholih bin Fauzan bin Abdullah Al-Fauzan –ulama anggota Majlis Fatwa Saudi- berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam khawatir akan terjadi di kalangan umatnya apa yang telah terjadi pada orang-orang Yahudi dan Nashoro terhadap kubur-kubur Nabi-Nabi mereka, yaitu yang berupa ghuluw (sikap melewati batas) terhadap kubur-kubur itu sehingga kubur-kubur itu menjadi berhala-berhala. Maka beliau memohon kepada Rabbnya agar tidak menjadikan kubur beliau demikian itu. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan sebab kemurkaan dan laknat Allah menimpa orang-orang Yahudi dan Nashoro, yaitu apa yang telah mereka lakukan terhadap kubur-kubur Nabi-Nabi mereka, sehingga mereka merubahnya menjadi berhala-berhala yang disembah. Maka mereka terjerumus di dalam syirik yang besar yang bertentangan dengan tauhid”. (Al-Mulakhkhos Fii Syarh Kitab At-Tauhid, hlm: 144-145)
MUSYRIKIN ARAB MENYEMBAH KUBUR
Allah Ta’ala mencela perbuatan orang-orang jahiliyah yang menyembah kepada selain Allah di dalam banyak tempat di dalam Al-Qur’an. Antara lain di dalam firman-Nya,
أَفَرَءَيْتُمُ اللاَّتَ وَالْعُزَّى {19} وَمَنَاةَ الثَّالِثَةَ اْلأُخْرَى {20
Beritahukan kepadaku (hai orang-orang musyrik) tentang Al-Lata dan Al-Uzza, dan Manah yang ketiga, yang lain itu?” (QS. An-Najm (53): 19-20)
Makna ayat ini –sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Qurthubi-, “Beritahukan kepadaku (hai orang-orang musyrik) tentang berhala-berhala ini, apakah dapat memberikan manfaat atau madhorot, sehingga menjadi sekutu-sekutu Alloh Ta’ala?” (Fathul Majid, hlm: 118, penerbit: Dar Ibni Hazm)
Ketiga nama ini adalah tuhan-tuhan yang disembah oleh orang-orang Arab jahiliyah.
Al-Lata adalah batu putih berukir yang padanya terdapat rumah, memiliki tirai-tirai, dan ada penjaganya. Di sekitarnya terdapat lokasi tanah yang diagungkan oleh penduduk kota Thoif. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, surat An-Najm, ayat: 19-20)
Ada juga yang mengatakan bahwa Lata adalah kubur laki-laki yang dahulu dianggap sebagai orang sholih. Imam Bukhori meriwayatkan,
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا فِي قَوْلِهِ اللَّاتَ وَالْعُزَّى كَانَ اللَّاتُ رَجُلًا يَلُتُّ سَوِيقَ الْحَاجِّ
Dari Ibnu Abbas tentang firman Allah Ta’ala: “tentang Al-Lata dan Al-Uzza”, (QS. An-Najm (53): 19), beliau mengatakan: “Latta dahulu adalah seorang laki-laki yang membuat adonan tepung untuk orang yang berhaji”. (HR. Bukhori, no: 4859)
Sa’id bin Manshur meriwayatkan bahwa Ibnu Abbas mengatakan: “(Latta) dahulu adalah seorang laki-laki yang menjual tepung dan mentega di dekat sebuah batu besar, dan membuat adonan di atas batu besar itu. Ketika laki-laki itu mati, suku Tsaqif menyembah batu besar itu karena mengagungkan terhadap penjual tepung itu (yakni Latta)”. (Fathul Majid, hlm: 117)
Sa’id bin Manshur juga meriwayatkan bahwa Mujahid mengatakan: “(Latta) dahulu adalah seorang laki-laki yang membuat adonan tepung untuk mereka (orang-orang jahiliyah), tatkala dia telah mati, mereka (orang-orang jahiliyah) semedi (tirakatan) pada kuburnya”.
Pada riwayat lain disebutkan: “Lalu dia (Latta) memberi makan orang-orang yang lewat. Tatkala dia telah mati, mereka menyembahnya. Mereka mengatakan: “Itu adalah Latta”. (Fathul Majid, hlm: 222)
Dari keterangan di atas, ada dua pendapat tentang wujud Latta. Sebagian mengatakan itu adalah sebuah batu, yang lain mengatakan itu wujudnya kubur. Namun pada hakekatnya kedua pendapat itu tidak berlawanan. Oleh karena itulah Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata: “Tidak ada kontradiksi antara dua pendapat itu, karena mereka menyembah batu dan kubur tersebut sebagai perbuatan ibadah dan pengangungan (kepada Latta, orang yang mereka anggap sholih-pen). Dan karena semisal ini, dibangun peninggalan-peninggalan (petilasan-petilasan) dan kubah-kubah di atas kubur-kubur, dan dijadikan sebagai berhala-berhala. Dan padanya terdapat keterangan bahwa orang-orang jahiliyah dahulu menyembah orang-orang sholih, patung-patung, dan berhala-berhala”. (Fathul Majid, hlm: 117)
KENYATAAN DI ZAMAN INI
Barangsiapa mengamati keadaan orang-orang yang mengagungkan kubur orang-orang yang dianggap sebagai wali di zaman ini, akan mendapati berbagai bentuk kemusyrikan pada mereka, dengan ringkas sebagai berikut,
  1. Anggapan mereka bahwa wali di kuburnya memiliki tindakan/kekuasaan di alam ini. Seperti: memberi manfaat, menimpakan musibah, menyembuhkan penyakit, melapangkan kesusahan, memenuhi permintaan dan hajat, dan semacamnya yang termasuk syirik rububiyah.
  2. Perbuatan memohon pertolongan, kesembuhan, perlindungan, keberkahan, menyembelih binatang untuknya, berthowaf (mengelilinginya), berhaji (ziarah) kepanya, dan semacamnya yang termasuk syirik uluhiyah.
  3. Anggapan bahwa wali di kuburnya sebagai An-Nafi Adh-Dhoor (Yang mendatangkan manfaat dan Yang menolak musibah), Al-Wahhab (Yang Maha memberi), Ar-Rozzaq (Yang memberi rizqi), dan semacamnya yang termasuk syirik asma’ was sifat. (Diringkas secara bebas dari “Kuburan Agung”, hlm: 42-43, karya Syaikh Mamduh Farhan Al-Buhairi, penerbit: Darul Haq, Jakarta)
Orang-orang yang mengagungkan kubur itu melewati beberapa jenjang sampai mereka menyembahnya. Jenjang-jenjang itu antara lain sebagai berikut: Taqdis (mengkultuskan) orang yang di kubur; Menjadikan penghuni kubur sebagai wasilah (perantara) kepada Alloh; Meyakini keberkahan kubur; Istighotsah dan memohon hajat; Menjadikan kubur sebagai berhala (tuhan yang disembah); Dan menjadikan kubur sebagai tempat yang diziarahi. (Diringkas dari “Kuburan Agung”, hlm: 35-37)
Di sini kami nukilkan sebagian kenyataan pada umat ini yang menunjukkan jauhnya sebagian orang yang mengaku beragama Islam dari ajaran Islam.
  1. Di Ma’an, Yordania, ada kuburan khusus yang dianggap menyembuhkan penyakit wanita!
  2. Di Thontho, Mesir, ada kuburan khusus yang dianggap menyembuhkan kemandulan, penyakit anak-anak, dan rematik!
  3. Pada waktu negeri Syam diserbu bangsa Tartar, para penyembah kubur keluar meminta tolong kepada kuburan!
  4. Ketika pasukan Rusia menyerbu kota Bukhoro, manusia berhamburan beristighotsah (meminta dihilangkan musibah) kepada kuburan Syah Naqsaband!
  5. Di Fayyum, Mesir, para penyembah kubur mengklaim bahwa yang meneylamatkan kota dari kehancuran selama perang dunia kedua adalah wali Ar-Rubi, berkat pertolongannya arah bom dipindahkan ke laut Yusuf! (Diringkas dari “Kuburan Agung”, hlm: 32-33)
  6. Di Pulau Jawa khususnya, banyak orang yang meminta berkah ke kuburan para wali songo!
Selain itu, masih banyak di berbagai tempat orang-orang mengagungkan kubur-kubur secara berlebihan, dan mengangkat kubur-kubur itu sebagai sekutu-sekutu bagi Allah. Maha Suci Allah dari kemusyrikan mereka. Semoga Allah memberikan bimbinganNya kita dan kaum muslimin menuju apa yang Dia cintai dan ridhoi. Aamiin.
Artikel Muslim.Or.Id (di nahimunkar.comKategori: Aqidah 15 April 2012
ilustrasi: eramuslim.com

Minggu, 21 Agustus 2011

Racun Media


Kalo diperhatikan selama Ramadhan ini, beberapa stasiun TV swasta tetap menayangkan acara-acara musik live (siaran langsung) yang kalo dilihat tampak megah dan besar-besan yang pasti menyerap banyak sponsor dan iklan yang cukup besar nilainya.

Kalo dipikir-pikir, kalo bulan ramadhan ini biaya penyelenggaraan acara glamor seperti itu disumbangkan untuk fakir miskin dan anak yatim betapa bahagianya mereka mendapatkan sumbangan yang sedemikian besarnya, kalo kita memperhatikan beberapa peristiwa yang memakan korban yang mengiringi pembagian zakat selama Ramadhan ini maka mudah disimpulkan bahwa jumlah orang miskin dinegeri ini yang masih cukup besar.

Apalagi acara musik gemerlap seperti itu jauh sekali dari semangat Ramadhan yang semestinya diisi dengan acara-acara yang Islami dan mendidik masyarakat dengan semangat Syiar Islam karena saat ini masih dalam suasana menjalankan ibadah puasa.

Pihak MUI memang beberapa kali memberikan kritiknya mengenai siaran-siaran TV swasta selama bulan Ramadhan ini yang paling santer adalah mengenai acara-acara 'pengiring' sahur yang diisi dengan acara komedi yang dianggap tidak Islami karena berisi lelucon-lelucon yang yang tidak mendidik masyarakat yang seharusnya diisi dengan acara-acara yang sesuai dengan situasi Ramadhan saat ini.

Ditambah lagi dengan siaran adzan yang dikomersilkan karena dimasukan iklan salah satu merek sepatu. Entah apa jadinya negeri ini, negeri dengan jumlah pemeluk Islam terbesar di dunia tapi telah diracuni dengan sedemikian rupa demi materi dan kenikmatan sesaat.

Kamis, 18 Agustus 2011

Asal Jujur, Bisa Diterima

Saya cukup tertarik dengan pernyataan salah seorang kerabat saya saat ngobrol 'ngalor-ngidul' sebelum shalat Tarawih tadi, katanya kenaikan harga BBM sebenarnya tidak masalah asalkan subsidi untuk angkutan dan sepeda motor (dengan CC rendah) tetap diberlakukan dan yang terpenting katanya dana hasil pencabutan subsidi BBM ini harus digunakan untuk subsidi kesehatan dan pendidikan rakyat.

Hmmm, apa mungkin bisa ? selama ini budaya korupsi dan kolusi masih marak berlangsung dan terjadi di dalam pemerintahan kita saat ini. Banyak kalangan menilai pemberantasan korupsi yang dilakukan pemerintah masih berjalan ditempat dan tebang pilih.

Meminjam istilah ustadz Al-Habsyi saat acara 'kultum' sebelum berbuka puasa di salah satu stasiun TV swasta beberapa waktu lalu, beliau menyatakan bahwa hukum dan undang-undang di Indonesia bagaikan sebilah pisau yang semakin ke bawah semakin tajam tapi semakin ke atas semakin tumpul.

Beliau mencontohkan, bila rakyat kecil yang melakukan kejahatan maka proses hukumnya akan berjalan cepat tapi sebaliknya bila yang melakukan kejahatan para pejabat dan para pemimpin di negeri ini maka proses hukumnya akan berjalan lambat dan bertele-tele bahkan tidak jarang si pelaku terbebas dari jerat hukum.

Beliau juga menambahkan, bahwa semua musibah dan bencana yang terjadi di negeri kita sebaiknya disikapi dengan 'pertaubatan' karena tidak semua bencana yang terjadi adalah sebuah ujian tapi bisa juga adalah peringatan dan azab dari Allah SWT mengingat kerusakan moral dan ahklak rakyat dan para pemimpin dinegeri ini yang sudah begitu rusaknya.

Naudzubillah, mudah-mudah bulan suci Ramadhan ini mampu menjadikan kita menjadi bangsa yang bertaubat hingga rahmat dan keberkahan bisa tercurah kembali ke negeri tercinta ini, amiiien

Rabu, 03 Agustus 2011

Meraih Kemenangan yang Sesungguhnya


Ini rasa yang biasa saya nikmati setiap kali memasuki bulan Ramadhan, rasa yang bagi sebagian orang mungkin terlalu berlebihan atau lebay. Tapi sejujurnya memang ini yang selalu saya rasakan setiap memasuki bulan yang suci ini.

Rasa kehilangan, yah itulah yang saya rasakan. Tak bisa dipungkiri bahwa saya selalu merasakan kehilangan saat-saat yang penting dibulan Ramadhan ini, momen dimana saya selalu merasakan aroma rohani yang nikmat saat menjalani ibadah dibulan Ramadhan ini.

Seiring bertambahnya usia dan semakin besarnya tuntutan kehidupan memang dapat mempengaruhi seseorang dalam menjalani hidup hingga mudah lupa akan keberadaan Sang Maha Pencipta, terjerambab dalam kehidupan fana dan hanya mengejar kenikmatan duniawi yang hanya sesaat.

Perasaan seperti ini pasti pernah dirasakan oleh siapapun, mungkin termasuk Anda. Mungkin Anda pernah merasakan romansa masa-masa indah saat Ramadhan ? Entah itu di saat masa kanak-kanak, di masa sekolah atau mungkin di saat Anda masih dibangku kuliahan. Rasa itulah yang saya maksud.

Bayangkan dan renungkanlah, seberapa banyak hal dan waktu yang terlewat... bila dulu mengisi Ramadhan ini dengan segudang tuntutan orang tua, sekolah atau gengsi anak muda saat menjalani ibadah puasa tapi kita tetap dapat menikmati puasa dengan penuh kegembiraan.

Dan kini, saat kita telah memiliki segalanya, anak, istri, suami, pekerjaan, rumah dan mungkin harta yang berlimpah, kita malah seolah lupa dengan makna dan nilai puasa yang sedang kita jalani. Saat memasuki Ramadhan yang ada dibenak hanya membayangkan harga-harga kebutuhan pokok yang melambung saat memasuki bulan Ramadhan atau mungkin juga setumpuk tuntutan yang membebani isi kepala kita untuk mencukupi kebutuhan lebaran keluarga.

Sebenarnya semuaanya adalah masalah klise yang selalu menghinggapi setiap orang tapi saya yakin, seberat apapu tuntutan hidup, sekejam apapun jaman menggilas, kita tetap tidak boleh lupa untuk selalu beribadah kepadaNya, di bulan Ramadhan inilah kesempatan yang kita miliki untuk instropeksi dan menguji kesabaran kita dalam menjalani hidup dan belajar untuk berbagi kepada sesama, semuanya dalam kerangka memperkokoh keimanan dan ketakwaan kita.

Semoga di bulan Ramadhan ini, kita dapat meraih kemenangan yang sesungguhnya... Amiiieen

Kamis, 28 April 2011

Aku Termasuk Golongan Tak Mampu

Sering keluar masuk SPBU milik pertamina, saya sering menemukan spanduk yang kurang lebih bertuliskan 'PREMIUM ADALAH BBM BERSUBSIDI UNTUK GOLONGAN TIDAK MAMPU' tulisan yang menggelitik, nyentil dan 'dalam'.

Spanduk-spanduk ini disebar oleh Pertamina sebagai himbauan untuk mengurangi penggunaan premium dan mengalihkan kendaraan bermotor milik pribadi untuk menggunakan pertamax. Penggunaan media spanduk dan selebaran untuk mengurangi penggunaan premium pada kendaraan pribadi menurut beberapa kalangan dinilai tidak akan berhasil dan tidak efektif.

Sejatinya, penyebaran spanduk ini adalah langkah sosialisasi awal menjelang dilaksanakannya pembatasan penggunaan premium pada bulan April ini.

Salah seorang petugas SPBU yang berlokasi di Jalan TB Simatupang, Jakarta, mengatakan spanduk yang disebar pemerintah tak menyadarkan masyarakat untuk tidak menggunakan premium.

"Kemarin kalau nggak salah mulai dipasangi spanduknya, tapi menurut saya sih sebetulnya itu tidak berpengaruh. Tempo hari saya masih lihat mobil mewah isi premium," tanggap petugas tersebut dengan polos kepada detikFinance, Kamis (14/4/2011).

Dari berita Detik ini, semestinya spanduk-spanduk tersebut membuat pemilik kendaraan pribadi (terutama pemilik mobil mewah) berfikir dan malu bila masih menggunakan premium untuk 'memberi minum' tunggangannya.

Jadi bertambah maklum, budaya malu masyarakat kita sudah semakin menipis ditambah dengan penegakan hukum dan peraturan yang tidak berjalan semestinya hingga sebanyak apapun undang-undang dan peraturan yang dibuat tidak akan ada artinya.

Hmmmm... kira-kira saya termasuk golongan tak mampu gak ya :)

Selasa, 26 April 2011

Kenapa Baru Sekarang ?

Entah harus harus dibilang apa, paska peristiwa ledakan bom dan rencana aksi pemboman dekat sebuah gereja di Bekasi yang sempat 'ketahuan', ada komentar dan pendapat yang menyatakan bahwa institusi pendidikan seperti SMU dan kampus banyak dijadikan tempat 'pengkaderan' teroris.

Beberapa pengamat menghubung-hubungkan peristiwa-peristiwa pemboman dengan geliat sebuah 'gerakan Islam' yang bernama NII. Entah mana yang benar, dulu mereka selalu berteriak tentang jaringan AlQaidah, Jamaah Islamiyah dan sekarang mereka 'melambungkan kembali' nama NII yang sempat tenggelam.

'Gerakan' NII di kampus-kampus sebenarnya bukan hal baru, sejak jaman saya masih kuliah dulu geliat NII dikampus-kampus sudah marak bahkan ada seorang rekan yang sempat masuk dan 'mengundang' saya dan beberapa teman saya untuk masuk kesana.

Seorang rekan saya yang sempat mengikuti pengajian mereka menyatakan bahwa kecendrungan dari gerakan mereka sepertinya hanya untuk 'mencari uang' meskipun dengan alasan 'dana' yang dikumpulkan dari jamaahnya akan digunakan untuk perjuangan mereka.

Entah kenapa baru sekarang para pengamat dan aparat keamanan meributkan masalah kegiatan NII di kampus-kampus, padahal sejak tahun 80-an hingga 90-an kegiatan NII di kampus sudah marak dan biasanya mereka menggunakan mushalla dan masjid kampus sebagai basis kegiatan mereka di kampus meskipun terselubung (entah saat ini, apakah masih ada atau tidak).

Apakah mungkin ini hanya 'akal-akalan' pihak tertentu yang bermaksud menghapus pendidikan berbasis Islam ? Sebelumnya pesantren juga pernah dituduh sebagai tempat perekrutan teroris dan kini semua tuduhan ini ditujukan semua lembaga pendidikan (terutama sekolah berbasis Islam).

Kamis, 21 April 2011

Hari Kartini

Tanggal 21 April setiap tahunnya kita selalu merayakan hari Kartini, tanggal dimana RA Kartini dilahirkan yang tepatnya pada tanggal 21 April 1879. Beberapa kalangan masih ada yang mempertanyakan penetapan tanggal 21 April yang notabene tanggal kelahiran Kartini sebagai tonggak perjuangan kaum perempuan di tanah air bahkan ada yang menghubungkan pemikiran Kartini (di surat-suratnya) dengan ajaran Theosofisme, Pluralisme dan Feminisme.


Benarkah 'ibu kita' Kartini pelopor perjuangan emansipasi wanita ? Jauh sebelum kelahiran Kartini kaum perempuan nusantara sudah mampu menunjukan 'kehebatan' mereka bahkan saya terkesan dengan tulisan di Kompasiana ini yang menyatakan bahwa jauh sebelum Kartini berkeluh kesah tentang nasib perempuan di tanah Jawa sudah banyak perempuan-perempuan hebat nusantara yang telah berhasil menjadi sosok yang sangat dihormati dan menjadi subjek penentu perubahan baik dibidang sosial, pendidikan, agama bahkan militer dan politik.

Sebut saja Cut Nyak Dhien, yang membawa pesan ketangguhan wanita di medan perang, Dewi Sartika dan Rohana Kudus yang memiliki kepedulian akan pendidikan dan kemandirian kaum perempuan di masanya, Laksamana Malahayati yang mampu memimpin ribuan pasukan dan mampu menggetarkan pertahanan penjajah, deretan nama sultan wanita (sultanah) di Aceh seperti Sri Ratu Safiatudin, Ratu Naqiatuddin Nur Alam, Sri Ratu Zakiatuddin Inayat Syah dan Sri Ratu Kamalat Syah dan masih banyak lagi sosok perempuan lain yang juga memiliki peran dalam memperjuangkan nasib perempuan tanpa menanggalkan agama dan kodrat keperempuanannya jauh sebelum 'kiprah' Kartini.

Ada pendapat yang menyatakan bahwa diangkatnya sosok Kartini sebagai pelopor pejuang emansipasi wanita lebih banyak dipengaruhi oleh aspek 'kepentingan' penguasa saat itu bahkan salah seorang pakar sejarah Tiar Anwar Bachtiar yang juga menjadi salah seorang peneliti di INSISTS menilai bahwa penokohan Kartini adalah salah satu taktik Belanda dalam menyebarkan faham Feminisme atas peran J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama dan Kerajinan Hindia Belanda dari tahun 1900-1905. Ia datang ke Hindia-Belanda pada tahun 1900 dan ditugaskan untuk membumikan ajaran-ajaran Barat di Nusantara, termasuk faham feminisme.

Nah, bagaimana menurut pendapat Anda ?

Jumat, 15 April 2011

Kehancuran Semakin Dekat ?

Membaca artikel sebuah situs berita Islam bikin saya merasa 'ngeri'.

Kerusakan moral dan paham-paham kebebasan yang merusak sudah mulai melanda negeri tercinta ini.

Pikir aja, salah seorang anggota DPR 'tertangkap tangan' oleh kamera wartawan sedang menikmati adegan-adegan porno di komputernya di sela-sela sidang.

Beruntung, partai tempat beliau bernaung sudah menjadi partai 'terbuka' dan bukan lagi partai dakwah seperti yang didengungkan saat awal berdirinya.

Lebih 'mengerikan' lagi, pentolan Islam liberal di tanah air kini sudah masuk dalam jajaran fungsionaris 'partai pemerintah'. Bayangkan bila dia berhasil duduk dalam kabinet.

Belum lagi fitnah-fitnah terhadap gerakan Islam yang menuntut aliran sesat diberantas selalu dikaitkan dengan pelanggaran HAM dan kekerasan.

Juga aksi-aksi teror bom yang selalu dikaitkan dengan Islam. Lengkap sudah, negeri ini dilemahkan dengan merusak elemen terbesarnya yaitu Islam dan umatnya. Dirusak dari luar dan dari dalam Islam itu sendiri.

----------
Sent from my Nokia phone

Minggu, 03 April 2011

Sesat Karena Kebodohan ?

Bila mengutip kata-kata bapak Ary Ginanjar (pendiri dan pemimpin ESQ) pada training yang saya ikuti beberapa waktu lalu, 'bila hanya ingin mengetahui apa itu training ESQ, kita bisa baca buku tentang ESQ tapi bila ingin merasakan pengalaman training ESQ maka kita harus ikut serta dalam training ini'.

Jujur saya akui, mengikuti training ESQ memang merupakan sebuah
pengalaman yang sulit dilupakan tapi bila kita pernah mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan, entah itu di sekolah, kampus atau organisasi maka beberapa kegiatan sesi pada pelatihan ESQ bukanlah hal baru (kecuali media alat bantunya yang menggunakan teknologi).

Banyak kalangan menilai metode yang digunakan ESQ merupakan 'dakwah' yang berhasil menjangkau kalangan yang sampai saat ini sulit dijangkau dengan metode dakwah konvensional, yaitu kalangan korporat, eksekutif dan pejabat.

Pujian terhadap metode ESQ ini tidak serta merta menjauhkan lembaga yang dikenal dengan sebutan 'ESQ 165' ini dari kontroversi. Pada pertengahan tahun 2010 yang lalu, beberapa kalangan ulama di Malaysia telah mengeluarkan fatwa sesat terhadap ESQ karena beberapa bahan 'ajaran' pada buku ESQ dianggap telah menghalalkan paham liberalisme dan pluralisme juga dituduh banyak menggunakan pemikiran kaum liberal dalam 'berhujjah'.

Lebih ekstrim lagi... dalam menyikapi fatwa ulama Malaysia ini, seorang da'i asal bekasi menganggap pemahaman ayat-ayat Quran dan hadist yang digunakan pada buku ESQ adalah da'wah yang dibuat atas dasar 'kebodohan' hingga dapat menyebabkan kesesatan karena bukan berasal dari orang yang kompeten dalam memberikan da'wah.

Seperti itukah? Mungkin ada benarnya, karena Ary Ginanjar sendiri adalah sosok seorang pebisnis sejati dan bukan seorang da'i. Tapi kita wajib memberikan apresiasi positif terhadap 'usahanya' dalam membagi ilmu yang diiringi 'dakwah' ajaran Islam.

Bagi orang awam dan berilmu rendah tentang agama seperti saya, fatwa 'sesat' adalah sebuah tuduhan yang terburu-buru. 'Ajaran' pada buku ESQ harus ditelisik dan diteliti lebih mendalam, apakah ada 'kesengajaan' atau disebabkan 'kekurangpahaman' terhadap syariat Islam hingga menyebabkan terjadi kesalahan 'redaksional' dalam ajaran yang tertuang dalam bukunya.

Islam mengajarkan untuk saling menasehati dalam kesabaran bukan hantam kromo dengan fatwa 'sesat' tapi harus 'diluruskan' bila terdapat suatu penyimpangan dan Islam juga mengajarkan agar kita mensyiarkan firman Allah meskipun hanya satu ayat tentu saja harus dilandasi dengan ilmu, lagipula ajaran Ahmadiyah yang nyata sesat saja masih terus kita 'dakwahi'

Kabarnya, saat ini ESQ telah memiliki semacam 'surat rekomendasi' dari MUI bahkan ada ulama dari unsur MUI dan beberapa tokoh ulama nasional telah menduduki posisi dalam 'dewan syariah' ESQ tapi meski begitu bukan berarti kita tetap duduk tenang, karena kita juga harus belajar banyak tentang ilmu agama agar dapat mengkritisi 'dakwah' modern yang ada saat ini hingga kita tidak tergelincir dalam kesesatan.

--
Dikirim dari perangkat seluler saya

--------------------------------------------------------
https://profiles.google.com/ronald.fargo

Sabtu, 02 April 2011

Awas Mata-mata !

Saat ini sedang dilakukan penggodokan undang-undang intelejen yang diajukan oleh Badan Intelejen Negara (BIN).

Ada beberapa poin yang menjadi sorotan masyarakat, yaitu masalah 'penyadapan' akun pengguna jejaring sosial dan masalah otorisasi BIN untuk melakukan penangkapan (dan interogasi) kepada tersangka 'pengancam' keamanan nasional.

Masalah otorisasi untuk melakukan penangkapan kepada BIN dikhawatirkan dapat melanggar HAM dan melangkahi peran lembaga-lembaga hukum yang sudah ada, antara lain kepolisian dan kejaksaan dalam melakukan penegakan hukum.

Bila hal ini terjadi, ini jelas suatu kemunduran. Peran BIN bisa saja dimanfaatkan oknum tertentu dan penguasa untuk mengawasi dan menyingkirkan 'lawannya'.

Bagi blogger dan pengguna situs jejaring sosial, ini jelas meresahkan karena dapat mematikan kreatifitas dan mengekang sikap kritis terhadap lingkungan sekitar termasuk kepedulian dalam hidup bernegara.

----------
Sent from my Nokia phone

Minggu, 27 Maret 2011

ESQ 'Menuju' Gerakan Pembaharuan Moral Bangsa ?

Bila membaca judul tulisan ini, coba perhatikan 'tanda tanya' yang saya berikan disitu. Yap, ini adalah sebuah pertanyaan di hati saya paska mengikuti pelatihan di sana.

Dengan anggota (alumni) lebih dari satu juta orang dan memiliki cabang yang sudah tersebar di tanah air dan di beberapa negara, tampaknya ESQ bisa saja 'menjelma' menjadi sebuah gerakan yang berskala nasional.

Bapak Ary Ginanjar, pemrakarsa dan pendiri ESQ menyatakan bahwa lembaga yang beliau pimpin adalah sebuah gerakan 'pembaharuan' moral (juga memiliki misi sosial) bagi bangsa yang saat ini telah mengalami 'degradasi' moral yang begitu tajam.

Dengan 'pelatihan' (pemahaman) untuk meningkatkan moral dan nilai-nilai berbasis nilai Islam kepada anggotanya, saya 'rasa' memang cukup berhasil.

Harapan saya, semoga kiprah ESQ untuk menjadi gerakan moral (dan sosial) tidak tercemar oleh kepentingan komersil (apalagi politik) dan mampu membuktikan semua tujuan dan misinya, bukan sekedar 'lips service' dalam tiap sesi pelatihan.

----------
Sent from my Nokia phone

Minggu, 20 Maret 2011

Jumlah Perpustakaan Masih Kurang

Repot juga kalo punya hobi membaca (buku), di hari libur seperti ini sebenarnya paling enak mengisi waktu dengan membaca buku.

Setiap kali saya membutuhkan bahan bacaan untuk mengisi waktu libur seperti ini mau ga mau harus merogoh kocek untuk membeli buku.

Tampaknya ketersediaan perpustakaan memang sangat dibutuhkan. Jumlah perpustakaan saat ini sangat kurang.

Tidak perlu bicara tentang kurangnya perpustakaan di daerah, di ibukota Jakarta saja untuk mencari perpustakaan umum sangat sulit.

Di masa sekolah dulu, saya harus ke perpustakaan British Council atau ke LIPI untuk mencari buku yang ingin dibaca. Seiring waktu, tentu saya sudah tidak banyak waktu untuk mengunjungi perpustakaan yang berada di kawasan pusat kota tersebut.

Kini saya hanya berharap semoga suatu saat, mencari lokasi perpustakaan bisa sama mudahnya seperti mencari mall yang terdekat di lokasi tempat tinggal kita.

----------
Sent from my Nokia phone

Sabtu, 19 Maret 2011

Keras Tapi Tetap Berkelas

Cuaca malam yang gerimis ini sambil menyaksikan siaran langsung liga Inggris antara Tottenham melawan West Ham benar-benar nikmat.

Pertandingan yang cukup alot, keras dan dengan permainan cepat yang menarik dengan gaya dan teknik sepakbola Inggris.

Uniknya, permainan 'keras' yang diperagakan kedua kesebelasan tetap tidak 'menghilangkan' teknik dan gaya sepakbola yang menarik.

Coba bandingkan dengan pertandingan liga sepakbola di tanah air, permainan keras selalu diwarnai pelanggaran hingga jangan heran bila tiap beberapa menit pasti terdengar peluit pelanggaran.

Bukan bermaksud mengecilkan produk dalam negeri seperti LSI dan LPI, tapi kenyataannya memang kualitas liga kita masih perlu pembenahan.

Bila di negara maju sepakbola sudah menjadi industri dan bisnis yang menjanjikan, di Indonesia sepakbola baru hanya sekedar prestis daerah, individu dan perusahaan pemilik klub hingga belum terlalu memperhatikan 'kualitas'.
Yang lebih parah bila sepakbola hanya dijadikan alat politik.

----------
Sent from my Nokia phone

Kamis, 17 Maret 2011

Dia Yang Maha Berkehendak

Mengikuti berita bencana gempa dengan diiringi tsunami di Jepang semestinya semakin membuat kita berfikir, tiada guna kesombongan, kehebatan, dan kekayaan yang kita miliki. Begitu bencana datang, dalam sekejap semua yang kita milikipun musnah.


Jepang, salah satu negara maju dan kaya di dunia inipun tidak luput dari bencana. Kecanggihan teknologi tidak dapat menghadang bencana dahsyat yang datang dengan tiba-tiba. Selain bencana tsunami kini Jepang juga didera dengan bencana radiasi nuklir akibat meledaknya salah satu pembangkit listrik tenaga nuklirnya.


Saat Allah SWT berkehendak, tidak ada satu kekuatanpun di alam semesta ini yang mampu mencegahnya. Sehebat dan sebesar apapun suatu bangsa tetap akan hancur bila Dia telah berkehendak.

Bila dulu Jepang banyak menyalurkan bantuannya ke negeri-negeri berkembang seperti Indonesia, kini Jepang sungguh sangat membutuhkan bantuan dunia bahkan Indonesia pun mengirimkan bantuan baik tenaga SAR, Medis maupun bantuan dana ke Jepang.

"Let's pray for Japan.... Let's pray for ourself..."

Minggu, 13 Maret 2011

Kompetisi Antar Kampung

Lagi nonton ajang Liga Primer Indonesia, pertandingan antara Semarang United FC dan Real Mataram.

Permainan 'keras' saya lebih suka menyebutnya kasar, permainan kedua kesebelasan tidak menunjukan tehnik indah karena lebih banyak menunjukan permainan keras.

Hmmm, seperti menyaksikan pertandingan antar kampung karena setiap beberapa menit selalu ada peluit pelanggaran.

Ini 'PR' buat kedua kesebelasan juga buat penyelenggara LPI untuk mewujudkan mutu permainan yang 'berkelas' dan fair play seperti yang didengungkan LPI di awal terbentuknya kompetisi ini.

----------
Sent from my Nokia phone

Selasa, 08 Maret 2011

Politik Adu Domba Ala 'Kumpeni'

Memperhatikan perkembangan informasi mengenai PSSI tambah lama bukan bertambah lebih baik justru kelihatan semakin kusut.

Meskipun ada angin segar dengan adanya pernyataan FIFA mengenai 'aturan main' pemilihan calon ketua umum federasi sepakbola harus sejalan dengan Statuta FIFA, antara lain menyatakan yang menjadi ketua federasi sepakbola tidak boleh pernah terbukti bersalah atas kasus hukum.

Dalam kisruh PSSI saat ini tampak sekali ada politik adu domba ditandai dengan munculnya 'komisi-komisi' dan 'komite-komite' bentukan dua kubu yang berseberangan.

Intrik ini mirip dengan 'aksi-aksi' ala politik yang mulai berusaha membagi PSSI menjadi dua kubu yang masing-masing pasti akan melakukan apapun untuk 'menyerang' satu sama lain.

Mudah-mudahan masyarakat 'pecinta bola' tidak terpengaruh dengan aksi-aksi 'politik' ini hingga melupakan tujuan utama dari reformasi PSSI, yaitu prestasi dan sportifitas juga profesionalisme dunia sepakbola Indonesia.

Selasa, 01 Maret 2011

Semakin Kacau Semakin Banyak 'Rejeki'

Waaahh..... judulnya ! apa bisa seperti itu ? Jaman sekarang prinsip seperti judul di atas sepertinya sudah biasa. Lihat Amerika dan sekutunya, saat suatu negeri sedang kacau bahkan perang bagi 'polisi dunia' ini merupakan sumber uang yang berlimpah, mulai dari penjualan senjata, penyediaan tentara bayaran (keamanan swasta) hingga mengacak-acak kehidupan politik negeri tersebut untuk kepentingannya yang juga gak jauh dari ekonomi.

Gak usah jauh-jauh, di negeri kita Indonesia yang 'damai' ini juga banyak praktek seperti diatas dimana ada pihak-pihak tertentu yang berusaha membuat kacau suatu keadaan agar mereka dapat memanfaatkan kondisi tersebut untuk kepentingannya dan kepentingannya juga gak jauh berbeda dengan yang di atas yaitu uang.

Saat kondisi kacau bisnis 'pengerahan massa' tumbuh subur, bisnis jasa 'keamanan' bergeliat bila kondisi ini terjadi maka premanisme juga tumbuh subur dan marak bahkan harga nyawa manusia menjadi 'murah' karena semuanya uang yang berbicara.

Waah ngeri, jadi ingat dengan peristiwa demo PSSI yang pernah di beritakan oleh POS KOTA di mana ada anggota demonstran dari kubu pro PSSI yang mengaku dibayar untuk berdemo seharga Rp. 60.000 perorang.

Bila itu benar, maka kondisi PSSI yang kacau berarti juga sudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menjual jasa 'pengerahan massa'. Seorang kenalan saya pernah bercerita, saat-saat kampanye Pemilu merupakan saat untuk meraup rejeki karena ada saja pihak mengajak dia untuk berkampanye dengan bayaran kaos partai dan uang berkisar Rp. 50.000 untuk sekali kampanye.

Salah seorang rekan saya lainnya yang dulu 'katanya' pernah menjadi aktivis mahasiswa juga tidak menampik bahwa di lingkungan kampus juga berlaku bisnis 'pengerahan massa' dengan bahasa halusnya 'ada pihak-pihak tertentu yang menjadi penyandang dana' dalam aksi-aksi pengerahan massa mahasiswa (saat marak tumbuhnya forum-forum dan aliansi-aliansi aksi mahasiswa) dan biasanya yang paling banyak mengambil untung adalah para kordinator lapangannya, dimana setiap ramai 'isu-isu' politik atau isu sosial yang berkembang di masyarakat kadang ada pihak-pihak tertentu yang berasal entah dari LSM, Ormas bahkan katanya tokoh-tokoh tertentu juga kadang mendatangi 'korlap-korlap' di kampus untuk 'urusan' ini.

Hmmm... Itu kata rekan saya lo, entah itu benar atau tidak... tapi saya berharap semua aksi mahasiswa adalah murni datang dari hati nurani mereka bukan karena ada penyandang dananya.

Tapi kecendrungan akan adanya usaha pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kondisi yang sedang 'kacau' (baca: sulit) sepertinya memang sulit dibantah. Apalagi disaat semakin banyaknya pengangguran dan kondisi ekonomi masyarakat kecil yang sulit saat ini, profesi sebagai 'demonstran' atau 'massa' bayaran sangat sulit ditolak seperti halnya bisnis tentara bayaran di Amerika yang di pelopori oleh 'milisi-milisi resmi' yang tumbuh subur di negeri tersebut.

Rabu, 23 Februari 2011

Mati Karena Mati Lampu

Judul ini ga terdengar sadis khan? Tulisan ini bukan bercerita tentang pembunuhan tapi hanya sedikit lompatan hati karena kekesalan hati akibat mati lampu.

Meskipun begitu mati lampu sebenarnya juga bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawa bahkan bisnis juga bisa mati karena mati lampu.

Mati lampu merupakan kenyataan yang harus dihadapi masyarakat. Salah seorang rekan di daerah harus rela bekerja hanya 3 sampai 4 jam sehari karena mati lampu karena dia bekerja di sebuah perusahaan kecil yang belum mampu membeli genset.

Inilah kenyataan, tarif listrik naik terus dan mati lampu jalan terus.

----------
Sent from my Nokia phone

Selasa, 22 Februari 2011

Bahaya Video Games, TV dan Bioskop

Yahoo News memberitakan bahwa parlemen negara bagian Chihuahua Mexico memerintahkan pelarangan sebuah video game besutan UbiSoft yang bertajuk 'Call of Juarez' yang dianggap semakin memperparah kondisi tindak kekerasan di Mexico yang saat ini sedang melanda negeri ini.

Saat ini saja di wilayah Ciudad Juarez sepanjang tahun 2009 dan 2010 hampir 6000 orang tewas akibat tindak kekerasan perang antar geng hingga menjadikan kota ini menjadi kota dengan tingkat kematian tertinggi di dunia.

Pelarangan ini memang cukup beralasan karena video game semacam ini dapat mempengaruhi pola pikir penggunanya terutama anak-anak terkait kekerasan. Di Indoneia sendiri hampir tidak ada pengawasan penggunaan video game terutama di kalangan anak-anak.

Beberapa tahun yang lalu terjadi insiden kematian anak-anak akibat ditembak dengan pistol angin mainan oleh temannya sendiri akibat terlalu sering menonton televisi. Pernah juga terjadi insiden beberapa anak yang harus dirawat di rumah sakit karena bergulat dengan temannya ala 'Smack Down' salah satu acara televisi yang sarat dengan kekerasan.

Video game dan televisi memang banyak mempengaruhi pola pikir dan kebiasaan masyarakat, coba tengok saat marak aksi pembawa acara bergaya 'banci' hingga dikhawatirkan dianggap sebagai gaya hidup 'banci' dijadikan trend masa kini oleh generasi muda dan dapat menjadi pencetus gaya hidup 'homo seksual'.

Selain TV dan video game, tayangan film bioskop juga mempunyai andil dalam mempengaruhi gaya hidup masyarakat. Bila bicara film bioskop jadi teringat di era tahun 90-an dan awal tahun 2000-an saat marak film-film nasional yang berbau pornografi yang banyak dikecam karena lebih mengedepankan aspek komersil dari pada mutu film itu sendiri.

Saat ini, katanya merupakan era kebangkitan film nasional dengan semakin banyaknya produksi film-film nasional yang dipelopori oleh film 'Ada Apa dengan Cinta' (AADC) hingga memancing keluarnya film-film nasional bertemakan cinta dan remaja.

Secara pribadi, saat ini saya sangat mengkhawatirkan semakin banyaknya film-film bertema horor yang mulai berbau erotisme dan pornografi contohnya 'Arwah Goyang Karawang', 'Jeritan Kuntilanak', 'Air Terjun Pengantin' dan lain-lain.... Akankah perfilman nasional akan kembali ke era 90-an, yang banyak mengeluarkan film-film dewasa 'murahan' yang hanya mengedepankan aspek komersil dibanding mutu dan 'pendidikan' masyarakat ?

Mari kita mulai menyaring sajian hiburang buat keluarga kita, agar tidak menyesal sebelum terlambat.