Cuaca malam yang gerimis ini sambil menyaksikan siaran langsung liga Inggris antara Tottenham melawan West Ham benar-benar nikmat.
Pertandingan yang cukup alot, keras dan dengan permainan cepat yang menarik dengan gaya dan teknik sepakbola Inggris.
Uniknya, permainan 'keras' yang diperagakan kedua kesebelasan tetap tidak 'menghilangkan' teknik dan gaya sepakbola yang menarik.
Coba bandingkan dengan pertandingan liga sepakbola di tanah air, permainan keras selalu diwarnai pelanggaran hingga jangan heran bila tiap beberapa menit pasti terdengar peluit pelanggaran.
Bukan bermaksud mengecilkan produk dalam negeri seperti LSI dan LPI, tapi kenyataannya memang kualitas liga kita masih perlu pembenahan.
Bila di negara maju sepakbola sudah menjadi industri dan bisnis yang menjanjikan, di Indonesia sepakbola baru hanya sekedar prestis daerah, individu dan perusahaan pemilik klub hingga belum terlalu memperhatikan 'kualitas'.
Yang lebih parah bila sepakbola hanya dijadikan alat politik.
----------
Sent from my Nokia phone
Tampilkan postingan dengan label Sepakbola. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sepakbola. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 19 Maret 2011
Minggu, 13 Maret 2011
Kompetisi Antar Kampung
Lagi nonton ajang Liga Primer Indonesia, pertandingan antara Semarang United FC dan Real Mataram.
Permainan 'keras' saya lebih suka menyebutnya kasar, permainan kedua kesebelasan tidak menunjukan tehnik indah karena lebih banyak menunjukan permainan keras.
Hmmm, seperti menyaksikan pertandingan antar kampung karena setiap beberapa menit selalu ada peluit pelanggaran.
Ini 'PR' buat kedua kesebelasan juga buat penyelenggara LPI untuk mewujudkan mutu permainan yang 'berkelas' dan fair play seperti yang didengungkan LPI di awal terbentuknya kompetisi ini.
----------
Sent from my Nokia phone
Permainan 'keras' saya lebih suka menyebutnya kasar, permainan kedua kesebelasan tidak menunjukan tehnik indah karena lebih banyak menunjukan permainan keras.
Hmmm, seperti menyaksikan pertandingan antar kampung karena setiap beberapa menit selalu ada peluit pelanggaran.
Ini 'PR' buat kedua kesebelasan juga buat penyelenggara LPI untuk mewujudkan mutu permainan yang 'berkelas' dan fair play seperti yang didengungkan LPI di awal terbentuknya kompetisi ini.
----------
Sent from my Nokia phone
Selasa, 08 Maret 2011
Politik Adu Domba Ala 'Kumpeni'
Memperhatikan perkembangan informasi mengenai PSSI tambah lama bukan bertambah lebih baik justru kelihatan semakin kusut.
Meskipun ada angin segar dengan adanya pernyataan FIFA mengenai 'aturan main' pemilihan calon ketua umum federasi sepakbola harus sejalan dengan Statuta FIFA, antara lain menyatakan yang menjadi ketua federasi sepakbola tidak boleh pernah terbukti bersalah atas kasus hukum.
Dalam kisruh PSSI saat ini tampak sekali ada politik adu domba ditandai dengan munculnya 'komisi-komisi' dan 'komite-komite' bentukan dua kubu yang berseberangan.
Intrik ini mirip dengan 'aksi-aksi' ala politik yang mulai berusaha membagi PSSI menjadi dua kubu yang masing-masing pasti akan melakukan apapun untuk 'menyerang' satu sama lain.
Mudah-mudahan masyarakat 'pecinta bola' tidak terpengaruh dengan aksi-aksi 'politik' ini hingga melupakan tujuan utama dari reformasi PSSI, yaitu prestasi dan sportifitas juga profesionalisme dunia sepakbola Indonesia.
Meskipun ada angin segar dengan adanya pernyataan FIFA mengenai 'aturan main' pemilihan calon ketua umum federasi sepakbola harus sejalan dengan Statuta FIFA, antara lain menyatakan yang menjadi ketua federasi sepakbola tidak boleh pernah terbukti bersalah atas kasus hukum.
Dalam kisruh PSSI saat ini tampak sekali ada politik adu domba ditandai dengan munculnya 'komisi-komisi' dan 'komite-komite' bentukan dua kubu yang berseberangan.
Intrik ini mirip dengan 'aksi-aksi' ala politik yang mulai berusaha membagi PSSI menjadi dua kubu yang masing-masing pasti akan melakukan apapun untuk 'menyerang' satu sama lain.
Mudah-mudahan masyarakat 'pecinta bola' tidak terpengaruh dengan aksi-aksi 'politik' ini hingga melupakan tujuan utama dari reformasi PSSI, yaitu prestasi dan sportifitas juga profesionalisme dunia sepakbola Indonesia.
Sabtu, 08 Januari 2011
Ada Unsur Politik Juga ?
Tadi sore menyaksikan pertandingan perdana Liga Primer Indonesia (LPI) lewat televisi, pertandingan perdana liga ini dibuka oleh kesebelasan Persema Malang dan Solo FC. Pertandingan dimenangkan oleh Persema dengan skor telak 5 -1.
Yang menarik dari pertandingan pembukaan ini adalah dengan hadirnya beberapa politisi antara lain Ketua Umum Partai Demokrat dan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dari pandangan awam saya, mungkinkah kehadiran LPI juga dimotivasi unsur politis ?
Kenapa saya bisa berfikir seperti itu ? Itu mungkin saja, sebab seperti yang kita ketahui saat ini PSSI sebagai satu-satunya induk olahraga sepakbola nasional secara organisasi 'dikuasai' oleh pengaruh Partai Golkar dengan Nurdin Halid sebagai ketua umumnya.
Nurdin Halid adalah salah satu kader Partai Golkar yang mempunyai pengaruh besar di Indonesia timur dan banyak kalangan menilai Nurdin adalah salah seorang 'tangan kanan' ketua umum Partai Golkar saat ini. Hingga saat hingar bingar kebangkitan sepakbola tanah air, Golkar lewat PSSI berusaha mengambil simpati dan mulai berusaha menunjukan 'image' lewat geliat kebangkitan persepakbolaan tanah air.
Sedangkan semua orang tahu bahwa LPI merupakan liga tandingan Liga Super Indonesia (LSI) yang berada dibawah pembinaan PSSI. Bahkan konsorsium penyelenggara yang dimotori oleh salah seorang pengusaha besar nasional 'dituduh' oleh PSSI telah melakukan 'kudeta' dengan berusaha membentuk PSSI tandingan serta melanggar UU tentang keolahragaan nasional.
Kehadiran LPI sendiri disambut antusias oleh masyarakat luas. Ini tidak heran mengingat saat ini PSSI dinilai oleh masyarakat sudah demikian 'rusak' dan gagal dalam menciptakan prestasi dan gagal melakukan pembinaan atlet-atlet sepakbola kita serta gagal meningkatkan kemajuan dunia persepakbolaan tanah air.
Dari euforia dan dukungan masyarakat kepada LPI inilah yang mungkin mendorong masuknya unsur-unsur politis dalam kehadiran LPI, jadi tidak heran bila acara pembukaan dan laga perdana LPI dihadiri beberapa tokoh partai politik yang mungkin memiliki 'kepentingan' yang berseberangan dengan Golkar. Bahkan pemerintah sendiri (yang 'kebetulan' saat ini dikuasai partai Demokrat) sudah memberikan dukungan kepada LPI dan unsur-unsur keamanan seperti kepolisian juga nampak 'tersirat' dukungannya menyambut kehadiran LPI.
Tulisan ini bukan bermaksud memberikan analisa politik tapi hanya sekedar mengeluarkan isi hati dan pendapat pribadi saya saja mengenai persepakbolaan ditanah air, mudah-mudahan harapan masyarakat akan kebangkitan prestasi sepakbola nasional dengan murni menjunjung sportifitas, 'Fair Play' dan tidak dicampuri 'urusan poltik' tidak (lagi-lagi) dikotori oleh ulah segelintir kelompok golongan untuk kepentingan politiknya. Bagaimana dengan pendapat Anda ?
Yang menarik dari pertandingan pembukaan ini adalah dengan hadirnya beberapa politisi antara lain Ketua Umum Partai Demokrat dan mantan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Dari pandangan awam saya, mungkinkah kehadiran LPI juga dimotivasi unsur politis ?
Kenapa saya bisa berfikir seperti itu ? Itu mungkin saja, sebab seperti yang kita ketahui saat ini PSSI sebagai satu-satunya induk olahraga sepakbola nasional secara organisasi 'dikuasai' oleh pengaruh Partai Golkar dengan Nurdin Halid sebagai ketua umumnya.
Nurdin Halid adalah salah satu kader Partai Golkar yang mempunyai pengaruh besar di Indonesia timur dan banyak kalangan menilai Nurdin adalah salah seorang 'tangan kanan' ketua umum Partai Golkar saat ini. Hingga saat hingar bingar kebangkitan sepakbola tanah air, Golkar lewat PSSI berusaha mengambil simpati dan mulai berusaha menunjukan 'image' lewat geliat kebangkitan persepakbolaan tanah air.
Sedangkan semua orang tahu bahwa LPI merupakan liga tandingan Liga Super Indonesia (LSI) yang berada dibawah pembinaan PSSI. Bahkan konsorsium penyelenggara yang dimotori oleh salah seorang pengusaha besar nasional 'dituduh' oleh PSSI telah melakukan 'kudeta' dengan berusaha membentuk PSSI tandingan serta melanggar UU tentang keolahragaan nasional.
Kehadiran LPI sendiri disambut antusias oleh masyarakat luas. Ini tidak heran mengingat saat ini PSSI dinilai oleh masyarakat sudah demikian 'rusak' dan gagal dalam menciptakan prestasi dan gagal melakukan pembinaan atlet-atlet sepakbola kita serta gagal meningkatkan kemajuan dunia persepakbolaan tanah air.
Dari euforia dan dukungan masyarakat kepada LPI inilah yang mungkin mendorong masuknya unsur-unsur politis dalam kehadiran LPI, jadi tidak heran bila acara pembukaan dan laga perdana LPI dihadiri beberapa tokoh partai politik yang mungkin memiliki 'kepentingan' yang berseberangan dengan Golkar. Bahkan pemerintah sendiri (yang 'kebetulan' saat ini dikuasai partai Demokrat) sudah memberikan dukungan kepada LPI dan unsur-unsur keamanan seperti kepolisian juga nampak 'tersirat' dukungannya menyambut kehadiran LPI.
Tulisan ini bukan bermaksud memberikan analisa politik tapi hanya sekedar mengeluarkan isi hati dan pendapat pribadi saya saja mengenai persepakbolaan ditanah air, mudah-mudahan harapan masyarakat akan kebangkitan prestasi sepakbola nasional dengan murni menjunjung sportifitas, 'Fair Play' dan tidak dicampuri 'urusan poltik' tidak (lagi-lagi) dikotori oleh ulah segelintir kelompok golongan untuk kepentingan politiknya. Bagaimana dengan pendapat Anda ?
Labels:
Blog,
Indonesia,
Ini Saya,
Sepakbola,
Undang-undang
Selasa, 28 Desember 2010
Beginilah Kalo Sudah Terpojok
Tadi baca salah satu link dari seorang rekan di Facebook-nya yang memberitakan tentang pernyataan ketua umum PSSI yang menyatakan perlakuan curang dan teror pihak Malaysia terhadap tim nasional Indonesia sejak kedatangan hingga jalannya pertandingan.Hmmm... karena penasaran mau baca artikel sumbernya akhirnya ketemu juga hehehe. Artikel ini menyebut Nurdin Halid lebih mengurusi urusan teror supporter Malaysia ketimbang melakukan pembenahan atas kekalahan ini dan kejadian yang timbul akibat kekacauan distribusi tiket yang terjadi di tanah air.
"Jadi memang ada hal yang teman-teman pers tidak tahu, bahwa sebetulnya timnas kita itu dari awal sudah dapat teror. Sejak dari awal latihan, menunggu bus sangat lama. Saya sampai maki-maki petugasnya," tutur Nurdin.
"Begitu kita tiba di tempat latihan, di muka gawang itu ditaburkan sesuatu serbuk yang membuat kiper kita gatal-gatal. Tapi saya belum tahu apa itu. (Pelatih) Widodo dan dokter bilang, serbuk itu menciptakan alergi, apalagi sampai bengkak-bengkak di Markus."
Kalo dipikir-pikir, kalo memang Bapak Halid ini serius dan memang memiliki bukti kalo kekalahan tim kita akibat kecurangan yang dilakukan supporter Malaysia kenapa tidak melakukan penuntutan agar hasil pertandingan di-anulir ? Dan sampai tadi malam saya juga tidak melihat tindakan berarti dari PSSI terutama Nurdin Halid untuk menyelesaikan masalah 'teror supporter' yang telah dijadikan kambing hitam oleh beliau ini.

Gaya 'ngeles' petinggi PSSI memang serupa tapi tak sama dengan anggota DPR dan pejabat yang habis ketahuan 'bobroknya', ngeles sengeles-ngelesnya kalo perlu pake alasan yang gak masuk akal dan 'menggelikan' untuk menutupi kelemahannya karena sudah mentok.
Yaaah... buat orang yang yang hanya memiliki 'strata' rakyat biasa seperti saya hanya bisa garuk-garuk kepala, urut dada sambil cengar-cengir melihat kelakuan konyol pejabat-pejabat macam ini sambil memendam sakit hati karena sudah tau dibodohin tapi gak bisa berbuat apa-apa.
Sudah waktunya 'Kemaluan' bangsa ini lebih diperbesar agar budaya malu benar-benar mendarah daging dan menjiwai moral bangsa terutama para pejabat negeri ini.
Jumat, 17 Desember 2010
Jadi Gak Yakin
Nonton hasil pertandingan AFF Cup antara Indonesia vs Filipina kemarin (16/12) jadi bikin gak yakin kalo Indonesia bakal masuk ke grand final kejuaraan ini. Dengan hasil kurang menyakinkan 1 - 0, itu juga sepertinya gol masuk untung-untungan.
Di pertandingan kemarin, Indonesia tampak bernar-benar bersusah payah untuk mengimbangi permainan lawan yang sebagian besar pemainnya adalah pemain asimilasi dari Eropa dan Amerika (rekan saya menyebut pertandingan kemarin adalah pertandingan melawan Inggris bukan dengan Filipina).
Kalo di kandang sendiri kita hanya bisa menghasilkan kemenangan tipis maka di pertandingan leg kedua nanti (19/12) bila permainan masih tetap seperti kemarin maka kemungkinan menang akan kecil.
Tapi tidak ada salahnya tetap berharap dan berusaha, mudah-mudahan kesebelasan kita mampu memenangkan pertandingan ini atau paling tidak menghasilkan skor seri untuk lolos ke final AFF Cup.
Di pertandingan kemarin, Indonesia tampak bernar-benar bersusah payah untuk mengimbangi permainan lawan yang sebagian besar pemainnya adalah pemain asimilasi dari Eropa dan Amerika (rekan saya menyebut pertandingan kemarin adalah pertandingan melawan Inggris bukan dengan Filipina).
Kalo di kandang sendiri kita hanya bisa menghasilkan kemenangan tipis maka di pertandingan leg kedua nanti (19/12) bila permainan masih tetap seperti kemarin maka kemungkinan menang akan kecil.
Tapi tidak ada salahnya tetap berharap dan berusaha, mudah-mudahan kesebelasan kita mampu memenangkan pertandingan ini atau paling tidak menghasilkan skor seri untuk lolos ke final AFF Cup.
Minggu, 11 Juli 2010
Besar Keinginan Tapi Tidak Ada Kemampuan
Ada rasa prihatin sekaligus menggelikan setelah mendengar pernyataan salah seorang 'veteran' PSSI tahun 1970-an dalam suatu wawancara dengan wartawan televisi swasta sore ini. Dalam pernyataannya, beliau menyatakan rasa prihatin yang sangat besar atas pembinaan persepakbolaan di tanah air. Para tokoh sepakbola di tanah air terlalu sibuk berdebat dan melupakan pembinaan sepakbola tanah air.
Keinginan untuk mengangkat sepakbola Indonesia ke kancah piala dunia seperti yang kita diharapkan ibarat mimpi di siang bolong bila kita melihat pembinaan sepakbola saat ini seperti yang diungkapkan di atas.
Salah seorang rekan saya juga pernah memiliki pemikiran yang kurang lebih sama dengan pernyataan di atas bahwa para tokoh sepakbola tanah air dan pejabat yang bertanggungjawab dengan olahraga tanah air terlalu sibuk berdebat.
Bila di negara maju (olahraganya), pembinaan dilakukan sejak dini tapi di tanah air pembinaannya dilakukan instan. Jadi jangan heran bila kemampuan atlet kita masih dibawah rata-rata. Jangankan tingkat dunia dan Asia, di tingkat ASEAN saja kita masih kedodoran.
Keinginan untuk mengangkat sepakbola Indonesia ke kancah piala dunia seperti yang kita diharapkan ibarat mimpi di siang bolong bila kita melihat pembinaan sepakbola saat ini seperti yang diungkapkan di atas.
Salah seorang rekan saya juga pernah memiliki pemikiran yang kurang lebih sama dengan pernyataan di atas bahwa para tokoh sepakbola tanah air dan pejabat yang bertanggungjawab dengan olahraga tanah air terlalu sibuk berdebat.
Bila di negara maju (olahraganya), pembinaan dilakukan sejak dini tapi di tanah air pembinaannya dilakukan instan. Jadi jangan heran bila kemampuan atlet kita masih dibawah rata-rata. Jangankan tingkat dunia dan Asia, di tingkat ASEAN saja kita masih kedodoran.
Langganan:
Postingan (Atom)




