Minggu, 13 Maret 2011

E-Mail Blogging Dengan Drupal ?

Beberapa hari terakhir saya merasa lumayan 'bete' juga karena ada masalah dengan 'display' monitor PC saya.

'Kebiasaan' ngeblog di rumah menjadi sedikit terganggu. Memang sih, untuk ngeblog di blogspot masih bisa saya lakukan lewat email di ponsel.

Tapi yang jadi masalah adalah saat 'kepengenan' untuk ngeblog di blog pribadi saya yang kebetulan berbasis Drupal, ada ga ya modul Drupal untuk email blogging ?

Sampai saat ini saya masih cari-cari modul tersebut di website resmi Drupal, walaupun ada tampaknya modul itu udah lama ga didevelop alias modul lawas.

----------
Sent from my Nokia phone

Selasa, 08 Maret 2011

Politik Adu Domba Ala 'Kumpeni'

Memperhatikan perkembangan informasi mengenai PSSI tambah lama bukan bertambah lebih baik justru kelihatan semakin kusut.

Meskipun ada angin segar dengan adanya pernyataan FIFA mengenai 'aturan main' pemilihan calon ketua umum federasi sepakbola harus sejalan dengan Statuta FIFA, antara lain menyatakan yang menjadi ketua federasi sepakbola tidak boleh pernah terbukti bersalah atas kasus hukum.

Dalam kisruh PSSI saat ini tampak sekali ada politik adu domba ditandai dengan munculnya 'komisi-komisi' dan 'komite-komite' bentukan dua kubu yang berseberangan.

Intrik ini mirip dengan 'aksi-aksi' ala politik yang mulai berusaha membagi PSSI menjadi dua kubu yang masing-masing pasti akan melakukan apapun untuk 'menyerang' satu sama lain.

Mudah-mudahan masyarakat 'pecinta bola' tidak terpengaruh dengan aksi-aksi 'politik' ini hingga melupakan tujuan utama dari reformasi PSSI, yaitu prestasi dan sportifitas juga profesionalisme dunia sepakbola Indonesia.

Minggu, 06 Maret 2011

Islam KTP

Siapa sih yang tidak kenal dengan 'si Tebe', 'bang Ali' atau 'Madid Musyawaroh' ? Nama-nama ini adalah tokoh-tokoh dalam cerita sinetron 'Islami' yang berjudul 'Islam KTP' yang ditayangkan hampir setiap hari di salah satu stasiun TV swasta.

Meskipun 'lebay' hampir tidak berbeda dengan sinetron lainnya, alur cerita dan penokohan film ini sebenarnya cukup jelas menggambarkan sikap dan sifat manusia saat ini.

Tokoh 'Madid' misalnya, yang menggambarkan sifat manusia yang munafik (dalam pengertian Islam), sombong dan 'riya'. Saat ini masih banyak orang yang 'berilmu' tapi berbanding terbalik dengan sifat dan tingkah lakunya, sombong, dan 'riya'.

Mereka bersedekah hanya untuk pamer dan mengharapkan pujian serta sombong. Mereka 'berilmu' tapi tetap melakukan perbuatan yang dilarang agama. Mereka 'memberi' tapi pongah dan melecehkan 'si penerima' pemberian.

Mungkin inilah yang dimaksud 'ISLAM KTP', mungkin saya sendiri masih 'ISLAM KTP, bagaimana dengan Anda? ' mari kita tafakur.
----------
Sent from my Nokia phone

Selasa, 01 Maret 2011

Semakin Kacau Semakin Banyak 'Rejeki'

Waaahh..... judulnya ! apa bisa seperti itu ? Jaman sekarang prinsip seperti judul di atas sepertinya sudah biasa. Lihat Amerika dan sekutunya, saat suatu negeri sedang kacau bahkan perang bagi 'polisi dunia' ini merupakan sumber uang yang berlimpah, mulai dari penjualan senjata, penyediaan tentara bayaran (keamanan swasta) hingga mengacak-acak kehidupan politik negeri tersebut untuk kepentingannya yang juga gak jauh dari ekonomi.

Gak usah jauh-jauh, di negeri kita Indonesia yang 'damai' ini juga banyak praktek seperti diatas dimana ada pihak-pihak tertentu yang berusaha membuat kacau suatu keadaan agar mereka dapat memanfaatkan kondisi tersebut untuk kepentingannya dan kepentingannya juga gak jauh berbeda dengan yang di atas yaitu uang.

Saat kondisi kacau bisnis 'pengerahan massa' tumbuh subur, bisnis jasa 'keamanan' bergeliat bila kondisi ini terjadi maka premanisme juga tumbuh subur dan marak bahkan harga nyawa manusia menjadi 'murah' karena semuanya uang yang berbicara.

Waah ngeri, jadi ingat dengan peristiwa demo PSSI yang pernah di beritakan oleh POS KOTA di mana ada anggota demonstran dari kubu pro PSSI yang mengaku dibayar untuk berdemo seharga Rp. 60.000 perorang.

Bila itu benar, maka kondisi PSSI yang kacau berarti juga sudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menjual jasa 'pengerahan massa'. Seorang kenalan saya pernah bercerita, saat-saat kampanye Pemilu merupakan saat untuk meraup rejeki karena ada saja pihak mengajak dia untuk berkampanye dengan bayaran kaos partai dan uang berkisar Rp. 50.000 untuk sekali kampanye.

Salah seorang rekan saya lainnya yang dulu 'katanya' pernah menjadi aktivis mahasiswa juga tidak menampik bahwa di lingkungan kampus juga berlaku bisnis 'pengerahan massa' dengan bahasa halusnya 'ada pihak-pihak tertentu yang menjadi penyandang dana' dalam aksi-aksi pengerahan massa mahasiswa (saat marak tumbuhnya forum-forum dan aliansi-aliansi aksi mahasiswa) dan biasanya yang paling banyak mengambil untung adalah para kordinator lapangannya, dimana setiap ramai 'isu-isu' politik atau isu sosial yang berkembang di masyarakat kadang ada pihak-pihak tertentu yang berasal entah dari LSM, Ormas bahkan katanya tokoh-tokoh tertentu juga kadang mendatangi 'korlap-korlap' di kampus untuk 'urusan' ini.

Hmmm... Itu kata rekan saya lo, entah itu benar atau tidak... tapi saya berharap semua aksi mahasiswa adalah murni datang dari hati nurani mereka bukan karena ada penyandang dananya.

Tapi kecendrungan akan adanya usaha pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kondisi yang sedang 'kacau' (baca: sulit) sepertinya memang sulit dibantah. Apalagi disaat semakin banyaknya pengangguran dan kondisi ekonomi masyarakat kecil yang sulit saat ini, profesi sebagai 'demonstran' atau 'massa' bayaran sangat sulit ditolak seperti halnya bisnis tentara bayaran di Amerika yang di pelopori oleh 'milisi-milisi resmi' yang tumbuh subur di negeri tersebut.

Minggu, 27 Februari 2011

Bukannya Tidak Butuh Tapi....

Beberapa kali salah seorang rekan di salah satu situs jejaring sosial memberikan tipsnya tentang bloging dan dari hasil Googling juga banyak menyajikan tips tentang blogging.

Ada satu tips yang sedikit membuat saya berfikir, salah satunya adalah yang menyatakan bahwa tukar menukar backling dan link akan meningkatkan pagerank kita di search engine, salah satu cara untuk tukar menukar dengan 'berkenalan' dengan sesama blogger yang diawali dengan memberikan komentar di blog orang lain (dengan mengharapkan orang tersebut mampir juga ke blog kita)

Hmmm.... seperti itukah ? Saya bukan anti sosial dan saya juga bukan orang sombong tapi terus terang saya bukan jenis orang yang suka berbasa-basi terlalu banyak dan tidak suka obrolan yang ngalor-ngidul, meskipun kadang dalam ajang komentar di suatu blog kadang mengandung diskusi tentang suatu topik terkait dengan topik tulisan di blog tersebut.

Saya lebih cenderung memilih milis dari pada ajang komentar blog (apalagi situs jejaring sosial) untuk mendiskusikan suatu yang saya anggap menarik karena biasanyaa milis lebih fokus saat kita mendiskusikan suatu 'threat' dan lebih bebas (dan puas karena menggunakan medium email) tapi saya tetap menghargai pengunjung yang memberikan komentar dan sarannya mengenai tulisan saya tersebut.

Memang sih kadang ada keinginan 'kapan ya blog saya penuh dengan komentar dari pengunjung?' meskipun sebenarnya fokus saya bukan disitu saat saya membuat tulisan. Saya hanya ingin menuangkan fikiran, gagasan dan pengetahuan saya aja, untuk urusan 'pagerank' biarlah itu urusan search engine yang urus toh bila ada tulisan saya yang terindex dan dibutuhkan oleh orang lain (sesuai keywords mereka) dan sekiranya bermanfaat toh tetap akan dikunjungi (syukur-syukur si pengunjung mau menampilkan backlink blog saya di blognya apalagi bila materi blog saya digunakan)

Rabu, 23 Februari 2011

Mati Karena Mati Lampu

Judul ini ga terdengar sadis khan? Tulisan ini bukan bercerita tentang pembunuhan tapi hanya sedikit lompatan hati karena kekesalan hati akibat mati lampu.

Meskipun begitu mati lampu sebenarnya juga bisa menyebabkan seseorang kehilangan nyawa bahkan bisnis juga bisa mati karena mati lampu.

Mati lampu merupakan kenyataan yang harus dihadapi masyarakat. Salah seorang rekan di daerah harus rela bekerja hanya 3 sampai 4 jam sehari karena mati lampu karena dia bekerja di sebuah perusahaan kecil yang belum mampu membeli genset.

Inilah kenyataan, tarif listrik naik terus dan mati lampu jalan terus.

----------
Sent from my Nokia phone

Selasa, 22 Februari 2011

Bahaya Video Games, TV dan Bioskop

Yahoo News memberitakan bahwa parlemen negara bagian Chihuahua Mexico memerintahkan pelarangan sebuah video game besutan UbiSoft yang bertajuk 'Call of Juarez' yang dianggap semakin memperparah kondisi tindak kekerasan di Mexico yang saat ini sedang melanda negeri ini.

Saat ini saja di wilayah Ciudad Juarez sepanjang tahun 2009 dan 2010 hampir 6000 orang tewas akibat tindak kekerasan perang antar geng hingga menjadikan kota ini menjadi kota dengan tingkat kematian tertinggi di dunia.

Pelarangan ini memang cukup beralasan karena video game semacam ini dapat mempengaruhi pola pikir penggunanya terutama anak-anak terkait kekerasan. Di Indoneia sendiri hampir tidak ada pengawasan penggunaan video game terutama di kalangan anak-anak.

Beberapa tahun yang lalu terjadi insiden kematian anak-anak akibat ditembak dengan pistol angin mainan oleh temannya sendiri akibat terlalu sering menonton televisi. Pernah juga terjadi insiden beberapa anak yang harus dirawat di rumah sakit karena bergulat dengan temannya ala 'Smack Down' salah satu acara televisi yang sarat dengan kekerasan.

Video game dan televisi memang banyak mempengaruhi pola pikir dan kebiasaan masyarakat, coba tengok saat marak aksi pembawa acara bergaya 'banci' hingga dikhawatirkan dianggap sebagai gaya hidup 'banci' dijadikan trend masa kini oleh generasi muda dan dapat menjadi pencetus gaya hidup 'homo seksual'.

Selain TV dan video game, tayangan film bioskop juga mempunyai andil dalam mempengaruhi gaya hidup masyarakat. Bila bicara film bioskop jadi teringat di era tahun 90-an dan awal tahun 2000-an saat marak film-film nasional yang berbau pornografi yang banyak dikecam karena lebih mengedepankan aspek komersil dari pada mutu film itu sendiri.

Saat ini, katanya merupakan era kebangkitan film nasional dengan semakin banyaknya produksi film-film nasional yang dipelopori oleh film 'Ada Apa dengan Cinta' (AADC) hingga memancing keluarnya film-film nasional bertemakan cinta dan remaja.

Secara pribadi, saat ini saya sangat mengkhawatirkan semakin banyaknya film-film bertema horor yang mulai berbau erotisme dan pornografi contohnya 'Arwah Goyang Karawang', 'Jeritan Kuntilanak', 'Air Terjun Pengantin' dan lain-lain.... Akankah perfilman nasional akan kembali ke era 90-an, yang banyak mengeluarkan film-film dewasa 'murahan' yang hanya mengedepankan aspek komersil dibanding mutu dan 'pendidikan' masyarakat ?

Mari kita mulai menyaring sajian hiburang buat keluarga kita, agar tidak menyesal sebelum terlambat.

Sabtu, 19 Februari 2011

Lucu-lucuan di TV One

Malam ini menyaksikan acara dialog di TV swasta TV One, yang malam ini mengangkat tema Ahmadiyah. Pembicaranya antara lain wakil dari MUI, juru bicara Ahmadiyah dan wakil dari Komnas HAM. Sebagai 'orang awam' saya sendiri bisa menilai betapa bohongnya Ahmadiyah ini.

Setiap kali dijelaskan bahwa Ahmadiyah telah merusak kitab suci Al-quran, setiap kali pula mereka menyatakan bahwa kitab suci mereka bukanlah Tazkirah tapi tetap Al-quran. Padahal distu mereka sendiri menyatakan bahwa Tazkirah ini bukanlah kitab suci tapi kenapa di kitab itu tercantum judul 'Wahyu Suci' ? sedangkan dalam Islam, kitab suci adalah kumpulan wahyu-wahyu Allah, jadi bagaimana bisa mereka berkilah bila Tazkirah ini bukan kitab suci ?

Dalam salah satu argumennya mereka menyatakan bahwa Tazkirah berisi kumpulan 'Ilham' yang diterima Ghulam Ahmad dari Allah, ini juga membingungkan karena mereka berusaha menyembunyikan keyakinan mereka bahwa Ghulam Ahmad menerima wahyu dengan kata 'Ilham'.

Dalam salah satu argumennya juga si Jubir ini juga menyatakan bahwa wahyu yang diterima oleh Ghulam Ahmad sama seperti 'Wahyu' yang diterima oleh sahabat-sahabat Rasulullah SAW sepeninggal wafatnya. Saat si Jubir menyatakan itu saya melihat wakil MUI terlihat tersenyum dan meluruskan argumen Jubir Ahmadiyah ini bahwa Wahyu terputus setelah Rasulullah wafat (ini juga dinyatakan oleh sahabat Rasulullah) jadi tidak pernah ada wahyu yang diturunkan kepada para sahabat Rasulullah SAW.

Bahkan dalam salah satu pernyataanya mereka berani menganggap fatwa MUI itu sebuah kesalahan karena dikeluarkan tanpa didahului dialog dengan mereka, mungkin Jubir ini mengalami amnesia karena siapapun yang mengikuti berita tentang Ahmadiyah mengetahui bahwa dialog sudah dilakukan oleh umat Islam dalam hal ini ulama mulai dari tingkat nasional (hasilnya adalah keluar aturan main berupa SKB yang sudah dilanggar Ahmadiyah) sampai tingkat wilayah terkecil (tapi tetap tidak berhasil, hingga terjadi peristiwa di Cikeusik - disinyalir didalangi oknum tertentu), dan dialog ini sudah dilakukan selama bertahun-tahun.

Dari sini sudah jelas bahwa klaim Ahmadiyah yang menyatakan bahwa mereka masih berpegang teguh pada Al-quran dan Hadist merupakan kebohongan besar karena dari argumen mereka ini terlihat jelas bila ilmu mereka tentang Al-quran dan Hadist sangat rendah.

Menurut saya pribadi, dari semua argumen dan penjelasan mereka tentang keislaman dan Tazkirah jelas-jelas merupakan kebohongan dan dari semua penjelasan mereka di acara dialog TV ini seperti dagelan (yang tak berisi) yang bila didengar oleh orang yang 'kurang baca' bisa tergelincir dan terperangkap masuk dalam keyakinan mereka.

Semoga kita selalu dilindungi Allah SWT dari kehancuran dan tergelincir dalam kesesatan, amiiien.

Sabtu, 12 Februari 2011

Lagi Ngomongin Mesir

Pasca lengsernya Presiden Mesir - Hosni Mubarak, gema kegembiraan dan euforia-nya ternyata tidak hanya terjadi di Mesir tapi juga terjadi di negara-negara Timur Tengah (mungkin juga di Indonesia). Di Indonesia sendiri kebanyakan orang menyamai peristiwa lengsernya Mubarak dengan peristiwa lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan.

Kalo dipikir-pikir, si Mubarak ini kalah 'jantan' dan 'gentle' dibanding Pak Harto. Kenapa begitu ? ya iyalah... Bila Mubarak mundur tanpa permisi alias tanpa pidato dihadapan rakyat Mesir tapi Pak Harto dengan gagah mengumumkan kepada rakyat Indonesia mengenai pengundurandirinya (lewat siaran TV).

Kalo dilihat dari posisi strategis Mesir di Timur Tengah, saya yakin penggantinya Mubarak pasti gak jauh-jauh dari pilihannya Israel dan Amrik...

Bagaimana dengan Indonesia ?

Pasca lengsernya presiden Soeharto yang disebut era reformasi, perubahan yang mencolok adalah 'keterbukaan' dan 'kebebasan' meskipun pada prakteknya masih tetap sama, tingkat korupsi masih tinggi (bertambah tinggi ?) dan akibat semangat kebebasan rasa malu semakin menipis dan dekadensi moral menjadi lebih parah dibanding era Orba.

Lebih hebat lagi, akibat semangat keterbukaan saat ini koruptor mudah dikenali karena biasanya setelah ditangkap wajah mereka akan nongol di TV dan media cetak tapi mereka masih saja tidak bisa dihukum dan masih bisa lolos dari hukuman meskipun banyak bukti kuat yang menunjukan kejahatan mereka (bahkan ada yang tidak terjamah oleh hukum sama sekali).

Begitulah Indonesia di era reformasi, nah bagaimana nanti dengan nasib Mesir di pemerintahan yang baru ?

Kamis, 27 Januari 2011

Jeblok Ya Jeblok Aja.....

Saya rasa wajar bila sebagian besar masyarakat yang merasa 'keki' atas rencana kenaikan gaji presiden dan sekitar 8000 pejabat negara yang saat ini sedang diusung oleh pemerintah.

Bagaimana tidak, masyarakat kecil terutama yang bekerja di sektor publik seperti petugas kebersihan, petugas parkir hingga guru yang berada dibawah suku dinas departemen belum mendapatkan penghasilan yang memadai bahkan gaji 'pahlawan tanpa tanda jasa' (guru) sangat jauh dari mencukupi kehidupan mereka ditambah status mereka yang kebanyakan sudah mengajar selama puluhan tahun masih berstatus guru honorer.

''Kan sudah dapat Rp 62 juta, memangnya nggak cukup uang segitu,'' kata Masykur (50 tahun) seorang guru honorer di sebuah SMA negeri di Jakarta kepada Republika, Rabu (26/1) saat sedang menyinggung gaji yang diterima seorang kepala negara Republika Indonesia tiap bulannya yang besarnya 38 kali gaji yang dia terima.

Masykur sudah mengabdi sejak tahun 1987 dan tak kunjung diangkat menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Di Indonesia, tak hanya balita gizi buruk saja yang masih marak. Jumlah orang seperti Mansyur, pegawai honorer yang bergaji buruk, masih jutaan banyaknya.

Karir honorernya bermula di sebuah madrasah tsanawiyah di bilangan Duren Tiga, Jakarta Selatan. Ketika itu Masykur hanya memperoleh upah Rp 50 ribu per bulan. Kini, 23 tahun kemudian, gaji yang ia terima hanya Rp 1,6 juta. ''Itu pun ngajar di dua tempat,'' kata Masykur.

Masih dari Republika, Selamet Riyadi (46), penjaga sekolah SMAN 60 Jakarta Selatan, langsung memberi lampu hijau jika presiden dan para pejabat negara ini ingin naik gaji. ''Tapi saya jadikan PNS dulu,'' ucapnya. Lalu Selamet melanjutkan, kehidupan presiden saat ini sudah sangat berkecukupan dengan fasilitas mewah kelas satu. Karenanya tak pantas bicara gaji di tengah kehidupan rakyat masih susah.

Makruf (62), pengangkut sampah yang bekerja di bawah Dinas Kebersihan dan Pertamanan Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, juga hanya bisa berkomentar sinis mengenai rencana kenaikan gaji para pejabat negara. Ia menilai tak seharusnya gaji pejabat naik sebab pendapatan yang diterima sudah besar. Lagipula, pejabat negara juga mendapat fasilitas dan kenyamanan yang lebih dibanding rakyat biasa. ''Naikkan gaji saya dulu dan teman-teman, bukannya mereka yang duitnya sudah banyak?''

Suara-suara diatas didengar ga ya ? Meragukan.... karena anggota DPR sendiri hanya segelintir orang saja yang menolak keras rencana ini dan yang lainnya sepertinya 'menolak' tapi ogah-ogahan. Coba aja simak yang diungkapkan oleh ketua DPR Marzuki Ali saat diwawancara oleh Republika yang lebih cendrung setuju, kenapa begitu ? ya setuju donk, kalo presiden naik gaji beliau sudah dipastikan naik gaji juga.
'Pemerintah paling tahu, pantas dan patutnya. Tapi kalau dilihat waktu tujuh tahun (presiden dan pejabat belum naik gaji),sudah sangat pantas, apalagi dengan nilai inflasi saat ini. Bisa dilihat, kalau inflasi rata-rata lima persen (per tahun), penurunan nilai gaji pejabat berapa banyak?.'
'Menurut saya, kalau memang tujuh tahun (gaji presiden dan pejabat, Red) belum pernah naik, lalu kita mengharapkan tidak ada korupsi, itu tidak adil juga. Kalau seperti itu berarti harus dilihat kembali, apakah wajar tujuh tahun tidak naik? Di lain pihak kita menuntut bekerja baik dan tidak korupsi.'
'Saya tidak bisa menyatakan pantas atau tidak pantas (naik gaji). Kalau misalnya pantas, saya tidak tahu tolok ukurnya. Kalau kepantasan dan kepatutan yang jadi masalah, kadang orang dikaitkan dengan kemiskinan, itu kan repot dan sensitif sekali. Seharusnya ada tolok ukur yang jelas, kapan boleh naik gaji.'
'Kalau masyarakat mengatakan belum pantas naik, lalu kapan pantasnya? Jangan hanya bilang tidak pantas. Harus ada indikator untuk menentukan pantas atau patutnya. Jangan pokoke, harus rasional. Misalnya, kalau mampu menurunkan kemiskinan sekian persen, lalu layak naik gaji. Jangan tidak ada ukuran.'

Pak Marzuki menyatakan 'tidak adil' bila gaji Presiden dan para pejabat yang puluhan kali diatas UMR selama tujuh tahun tidak naik-naik tapi dituntut untuk tidak korupsi ? PARAH...

Apa menjamin bila dinaikan gaji korupsi akan berkurang ? sekarang gaji besar pejabat ditambah berbagai fasilitas saja masih korupsi ? Di Indonesia, korupsi dilingkungan pejabat sudah menjadi budaya warisan dari zaman pemerintahan sebelum 'era reformasi' saat ini. Tapi uniknya di zaman yang katanya 'era reformasi' dengan slogan 'Anti KKN' tapi nyatanya korupsi semakin marak dan terbuka, orang yang terjerat tuntutan korupsi bisa tampak terlihat tenang-tenang saja (bahkan masih bisa jalan-jalan) karena hukum dapat dengan mudahnya 'dibeli'.

Mmmm..... Kira-kira kapan ya saya bisa naik gaji tanpa diiringi kenaikan sembako dan BBM yang melambung tinggi ? Karena 'jatuhnya' sama saja dengan ga naik gaji :)