Sabtu, 19 Maret 2011

Keras Tapi Tetap Berkelas

Cuaca malam yang gerimis ini sambil menyaksikan siaran langsung liga Inggris antara Tottenham melawan West Ham benar-benar nikmat.

Pertandingan yang cukup alot, keras dan dengan permainan cepat yang menarik dengan gaya dan teknik sepakbola Inggris.

Uniknya, permainan 'keras' yang diperagakan kedua kesebelasan tetap tidak 'menghilangkan' teknik dan gaya sepakbola yang menarik.

Coba bandingkan dengan pertandingan liga sepakbola di tanah air, permainan keras selalu diwarnai pelanggaran hingga jangan heran bila tiap beberapa menit pasti terdengar peluit pelanggaran.

Bukan bermaksud mengecilkan produk dalam negeri seperti LSI dan LPI, tapi kenyataannya memang kualitas liga kita masih perlu pembenahan.

Bila di negara maju sepakbola sudah menjadi industri dan bisnis yang menjanjikan, di Indonesia sepakbola baru hanya sekedar prestis daerah, individu dan perusahaan pemilik klub hingga belum terlalu memperhatikan 'kualitas'.
Yang lebih parah bila sepakbola hanya dijadikan alat politik.

----------
Sent from my Nokia phone

Kamis, 17 Maret 2011

Dia Yang Maha Berkehendak

Mengikuti berita bencana gempa dengan diiringi tsunami di Jepang semestinya semakin membuat kita berfikir, tiada guna kesombongan, kehebatan, dan kekayaan yang kita miliki. Begitu bencana datang, dalam sekejap semua yang kita milikipun musnah.


Jepang, salah satu negara maju dan kaya di dunia inipun tidak luput dari bencana. Kecanggihan teknologi tidak dapat menghadang bencana dahsyat yang datang dengan tiba-tiba. Selain bencana tsunami kini Jepang juga didera dengan bencana radiasi nuklir akibat meledaknya salah satu pembangkit listrik tenaga nuklirnya.


Saat Allah SWT berkehendak, tidak ada satu kekuatanpun di alam semesta ini yang mampu mencegahnya. Sehebat dan sebesar apapun suatu bangsa tetap akan hancur bila Dia telah berkehendak.

Bila dulu Jepang banyak menyalurkan bantuannya ke negeri-negeri berkembang seperti Indonesia, kini Jepang sungguh sangat membutuhkan bantuan dunia bahkan Indonesia pun mengirimkan bantuan baik tenaga SAR, Medis maupun bantuan dana ke Jepang.

"Let's pray for Japan.... Let's pray for ourself..."

Rabu, 16 Maret 2011

Butuh Pencerahan

Sepertinya mau kembali seperti dulu lagi, rasanya ada aja ide untuk menuangkan sesuatu ke dalam baris-baris kode pemrograman. Sekarang ini justru sekarang ini malah jadi malas.

Lagi ada niatan mo bikin aplikasi ringan untuk dipake kerja sehari-hari dikantor tapi ide mentok. Sekarang lagi ada keinginan untuk membuat webblog berbasis Django Python tapi begitu di depan kompi semangat langsung kendor.

Padahal konsep udah di kepala.....

Senin, 14 Maret 2011

Django, Saya Masih Butuh Waktu Lagi

Untuk membuat Django blog (website Django) secara programming sebenarnya mudah tapi sepertinya saya masih membutuhkan waktu lagi terutama untuk memahami konsep pengaturan 'url-nya' di urls.py.

Konsep templating dan konsep query-nya sudah saya buat tapi karena mentok di 'urls.py' yang sampai saat ini masih gagal terus. Apakah mungkin ini karena saya menggunakan Django di AppEngine ? jadi url tidak hanya disetting di urls.py tapi juga di app.yaml ? Ini belum saya coba.

Hari ini akan saya coba lagi, mungkin saya akan coba menambahkan baris url di 'app.yaml' sesuai dengan baris yang ada di 'urls.py', mudah-mudahan berhasil.

Minggu, 13 Maret 2011

Kompetisi Antar Kampung

Lagi nonton ajang Liga Primer Indonesia, pertandingan antara Semarang United FC dan Real Mataram.

Permainan 'keras' saya lebih suka menyebutnya kasar, permainan kedua kesebelasan tidak menunjukan tehnik indah karena lebih banyak menunjukan permainan keras.

Hmmm, seperti menyaksikan pertandingan antar kampung karena setiap beberapa menit selalu ada peluit pelanggaran.

Ini 'PR' buat kedua kesebelasan juga buat penyelenggara LPI untuk mewujudkan mutu permainan yang 'berkelas' dan fair play seperti yang didengungkan LPI di awal terbentuknya kompetisi ini.

----------
Sent from my Nokia phone

E-Mail Blogging Dengan Drupal ?

Beberapa hari terakhir saya merasa lumayan 'bete' juga karena ada masalah dengan 'display' monitor PC saya.

'Kebiasaan' ngeblog di rumah menjadi sedikit terganggu. Memang sih, untuk ngeblog di blogspot masih bisa saya lakukan lewat email di ponsel.

Tapi yang jadi masalah adalah saat 'kepengenan' untuk ngeblog di blog pribadi saya yang kebetulan berbasis Drupal, ada ga ya modul Drupal untuk email blogging ?

Sampai saat ini saya masih cari-cari modul tersebut di website resmi Drupal, walaupun ada tampaknya modul itu udah lama ga didevelop alias modul lawas.

----------
Sent from my Nokia phone

Selasa, 08 Maret 2011

Politik Adu Domba Ala 'Kumpeni'

Memperhatikan perkembangan informasi mengenai PSSI tambah lama bukan bertambah lebih baik justru kelihatan semakin kusut.

Meskipun ada angin segar dengan adanya pernyataan FIFA mengenai 'aturan main' pemilihan calon ketua umum federasi sepakbola harus sejalan dengan Statuta FIFA, antara lain menyatakan yang menjadi ketua federasi sepakbola tidak boleh pernah terbukti bersalah atas kasus hukum.

Dalam kisruh PSSI saat ini tampak sekali ada politik adu domba ditandai dengan munculnya 'komisi-komisi' dan 'komite-komite' bentukan dua kubu yang berseberangan.

Intrik ini mirip dengan 'aksi-aksi' ala politik yang mulai berusaha membagi PSSI menjadi dua kubu yang masing-masing pasti akan melakukan apapun untuk 'menyerang' satu sama lain.

Mudah-mudahan masyarakat 'pecinta bola' tidak terpengaruh dengan aksi-aksi 'politik' ini hingga melupakan tujuan utama dari reformasi PSSI, yaitu prestasi dan sportifitas juga profesionalisme dunia sepakbola Indonesia.

Minggu, 06 Maret 2011

Islam KTP

Siapa sih yang tidak kenal dengan 'si Tebe', 'bang Ali' atau 'Madid Musyawaroh' ? Nama-nama ini adalah tokoh-tokoh dalam cerita sinetron 'Islami' yang berjudul 'Islam KTP' yang ditayangkan hampir setiap hari di salah satu stasiun TV swasta.

Meskipun 'lebay' hampir tidak berbeda dengan sinetron lainnya, alur cerita dan penokohan film ini sebenarnya cukup jelas menggambarkan sikap dan sifat manusia saat ini.

Tokoh 'Madid' misalnya, yang menggambarkan sifat manusia yang munafik (dalam pengertian Islam), sombong dan 'riya'. Saat ini masih banyak orang yang 'berilmu' tapi berbanding terbalik dengan sifat dan tingkah lakunya, sombong, dan 'riya'.

Mereka bersedekah hanya untuk pamer dan mengharapkan pujian serta sombong. Mereka 'berilmu' tapi tetap melakukan perbuatan yang dilarang agama. Mereka 'memberi' tapi pongah dan melecehkan 'si penerima' pemberian.

Mungkin inilah yang dimaksud 'ISLAM KTP', mungkin saya sendiri masih 'ISLAM KTP, bagaimana dengan Anda? ' mari kita tafakur.
----------
Sent from my Nokia phone

Selasa, 01 Maret 2011

Semakin Kacau Semakin Banyak 'Rejeki'

Waaahh..... judulnya ! apa bisa seperti itu ? Jaman sekarang prinsip seperti judul di atas sepertinya sudah biasa. Lihat Amerika dan sekutunya, saat suatu negeri sedang kacau bahkan perang bagi 'polisi dunia' ini merupakan sumber uang yang berlimpah, mulai dari penjualan senjata, penyediaan tentara bayaran (keamanan swasta) hingga mengacak-acak kehidupan politik negeri tersebut untuk kepentingannya yang juga gak jauh dari ekonomi.

Gak usah jauh-jauh, di negeri kita Indonesia yang 'damai' ini juga banyak praktek seperti diatas dimana ada pihak-pihak tertentu yang berusaha membuat kacau suatu keadaan agar mereka dapat memanfaatkan kondisi tersebut untuk kepentingannya dan kepentingannya juga gak jauh berbeda dengan yang di atas yaitu uang.

Saat kondisi kacau bisnis 'pengerahan massa' tumbuh subur, bisnis jasa 'keamanan' bergeliat bila kondisi ini terjadi maka premanisme juga tumbuh subur dan marak bahkan harga nyawa manusia menjadi 'murah' karena semuanya uang yang berbicara.

Waah ngeri, jadi ingat dengan peristiwa demo PSSI yang pernah di beritakan oleh POS KOTA di mana ada anggota demonstran dari kubu pro PSSI yang mengaku dibayar untuk berdemo seharga Rp. 60.000 perorang.

Bila itu benar, maka kondisi PSSI yang kacau berarti juga sudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang menjual jasa 'pengerahan massa'. Seorang kenalan saya pernah bercerita, saat-saat kampanye Pemilu merupakan saat untuk meraup rejeki karena ada saja pihak mengajak dia untuk berkampanye dengan bayaran kaos partai dan uang berkisar Rp. 50.000 untuk sekali kampanye.

Salah seorang rekan saya lainnya yang dulu 'katanya' pernah menjadi aktivis mahasiswa juga tidak menampik bahwa di lingkungan kampus juga berlaku bisnis 'pengerahan massa' dengan bahasa halusnya 'ada pihak-pihak tertentu yang menjadi penyandang dana' dalam aksi-aksi pengerahan massa mahasiswa (saat marak tumbuhnya forum-forum dan aliansi-aliansi aksi mahasiswa) dan biasanya yang paling banyak mengambil untung adalah para kordinator lapangannya, dimana setiap ramai 'isu-isu' politik atau isu sosial yang berkembang di masyarakat kadang ada pihak-pihak tertentu yang berasal entah dari LSM, Ormas bahkan katanya tokoh-tokoh tertentu juga kadang mendatangi 'korlap-korlap' di kampus untuk 'urusan' ini.

Hmmm... Itu kata rekan saya lo, entah itu benar atau tidak... tapi saya berharap semua aksi mahasiswa adalah murni datang dari hati nurani mereka bukan karena ada penyandang dananya.

Tapi kecendrungan akan adanya usaha pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan kondisi yang sedang 'kacau' (baca: sulit) sepertinya memang sulit dibantah. Apalagi disaat semakin banyaknya pengangguran dan kondisi ekonomi masyarakat kecil yang sulit saat ini, profesi sebagai 'demonstran' atau 'massa' bayaran sangat sulit ditolak seperti halnya bisnis tentara bayaran di Amerika yang di pelopori oleh 'milisi-milisi resmi' yang tumbuh subur di negeri tersebut.

Minggu, 27 Februari 2011

Bukannya Tidak Butuh Tapi....

Beberapa kali salah seorang rekan di salah satu situs jejaring sosial memberikan tipsnya tentang bloging dan dari hasil Googling juga banyak menyajikan tips tentang blogging.

Ada satu tips yang sedikit membuat saya berfikir, salah satunya adalah yang menyatakan bahwa tukar menukar backling dan link akan meningkatkan pagerank kita di search engine, salah satu cara untuk tukar menukar dengan 'berkenalan' dengan sesama blogger yang diawali dengan memberikan komentar di blog orang lain (dengan mengharapkan orang tersebut mampir juga ke blog kita)

Hmmm.... seperti itukah ? Saya bukan anti sosial dan saya juga bukan orang sombong tapi terus terang saya bukan jenis orang yang suka berbasa-basi terlalu banyak dan tidak suka obrolan yang ngalor-ngidul, meskipun kadang dalam ajang komentar di suatu blog kadang mengandung diskusi tentang suatu topik terkait dengan topik tulisan di blog tersebut.

Saya lebih cenderung memilih milis dari pada ajang komentar blog (apalagi situs jejaring sosial) untuk mendiskusikan suatu yang saya anggap menarik karena biasanyaa milis lebih fokus saat kita mendiskusikan suatu 'threat' dan lebih bebas (dan puas karena menggunakan medium email) tapi saya tetap menghargai pengunjung yang memberikan komentar dan sarannya mengenai tulisan saya tersebut.

Memang sih kadang ada keinginan 'kapan ya blog saya penuh dengan komentar dari pengunjung?' meskipun sebenarnya fokus saya bukan disitu saat saya membuat tulisan. Saya hanya ingin menuangkan fikiran, gagasan dan pengetahuan saya aja, untuk urusan 'pagerank' biarlah itu urusan search engine yang urus toh bila ada tulisan saya yang terindex dan dibutuhkan oleh orang lain (sesuai keywords mereka) dan sekiranya bermanfaat toh tetap akan dikunjungi (syukur-syukur si pengunjung mau menampilkan backlink blog saya di blognya apalagi bila materi blog saya digunakan)